Sumber Gambar: ilustrasi
Rupiah kembali menghadapi tekanan hebat di pasar keuangan global. Pada perdagangan pagi, nilai tukar rupiah resmi melewati ambang batas psikologis baru dengan dibuka pada level Rp18.016 per dolar AS, mencatatkan penurunan sebesar 49 poin atau sekitar 0,27%. Angka ini menjadi posisi terlemah rupiah yang pernah tercatat dalam sejarah ekonomi domestik.
Menanggapi situasi kritis ini, pihak bank sentral langsung turun tangan untuk memberikan penjelasan sekaligus menenangkan gejolak pasar yang terjadi.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, membeberkan bahwa ada dua faktor utama—eksternal dan internal—yang menjadi pemicu rapuhnya nilai tukar saat ini:
Eskalasi Konflik di Timur Tengah: Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan tersebut meredam harapan perdamaian global. Dampaknya, harga minyak mentah dunia melambung tinggi, memicu risiko inflasi global, dan memaksa para investor menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Tingginya Permintaan Valuta Asing Domestik: Di dalam negeri sendiri, permintaan terhadap dolar AS sedang melonjak tajam. Hal ini dipengaruhi oleh siklus tahunan korporasi, terutama untuk keperluan repatriasi dividen ke luar negeri serta pemenuhan kewajiban pembayaran Utang Luar Negeri (ULN).
Meski rupiah mengalami koreksi hingga 7,44% secara year-to-date (ytd), BI menegaskan bahwa tren pelemahan ini masih sejalan dengan mata uang regional lainnya. Demi menjaga stabilitas, BI menyiapkan sejumlah langkah taktis:
Intervensi Pasar Secara Berlapis: BI memastikan akan meningkatkan intensitas kehadiran mereka di pasar keuangan. Intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Dongkrak Transaksi Mata Uang Lokal (LCT): Untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi terhadap dolar AS, BI terus menggenjot skema Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra seperti China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan UEA. Hingga April 2026, nilai transaksi non-dolar ini telah menembus angka sekitar US$22,7 miliar.
Optimalkan Daya Tarik Aset Domestik: BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar lebih ramah pasar (pro-market), dengan harapan modal asing (capital inflow) kembali masuk ke tanah air.
Kondisi Cadangan Devisa: Di tengah hantaman sentimen global, Bank Indonesia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional masih relatif aman. Ketahanan eksternal ini ditopang oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang berdiri kokoh di angka US$146,2 miliar.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.