Sumber Gambar:
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali turun dan menciptakan rekor baru yang buruk. Menurut data pasar keuangan pada hari Rabu (20/5/2026), mata uang Rupiah kini telah melewati di angka Rp 17.801 per dolar AS.
Penurunan ini memperpanjang tren buruk dari rupiah yang terus melemah selama beberapa hari berturut-turut, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun 2026.
Kombinasi Sentimen Global dan Beban Domestik
Para ahli ekonomi berpendapat bahwa jatuhnya nilai rupiah kali ini disebabkan oleh efek domino dari ketidakpastian ekonomi global dan juga tekanan fiskal di dalam negeri. Ada beberapa faktor penting yang memperburuk situasi ini, antara lain: Kenaikan Harga Minyak Dunia akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah sehingga membuat harga minyak mentah naik lebih dari 100 dolar AS per barel. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai impor energinya. Hal ini menyebabkan subsidi meningkat dan cadangan devisa semakin menurun.
Perburuan Aset Aman: Ketidakpastian geopolitik yang tinggi membuat investor dari seluruh dunia menarik investasi mereka dari pasar negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika.
Sentimen Defisit Fiskal: Saat ini pelaku pasar sedang mengamati dengan seksama arah kebijakan anggaran belanja negara untuk tahun 2026, yang menunjukkan peningkatan defisit. Hal ini akan membuat kekhawatiran mengenai stabilitas pengelolaan fiskal dalam jangka panjang.
Para ahli ekonomi mengingatkan bahwa penurunan nilai rupiah yang sangat besar ini akan segera berpengaruh langsung pada keuangan masyarakat. Harga kebutuhan pokok yang berasal dari impor, biaya transportasi, sektor produksi, dan harga energi diperkirakan akan naik dalam waktu dekat. Kelompok kelas menengah akan terkena dampak yang paling besar dari inflasi ini.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.