Benfica & Al-Hilal: Tak Selamanya Deretan Kemenangan Berakhir Manis

Bagikan:
πŸ“… 04 Jun 2026 β€’ πŸ‘οΈ 20 views β€’ 🏷️ Dunia β€’ ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: @katieling

Konsistensi menjadi salah satu kunci dalam meraih keberhasilan. Kita semua tau keberhasilan dan kemenangan akan diraih bila kita selalu berpegang teguh pada pendirian dan tak mau mengalah. Namun, ada kalanya kemenangan itu justru hanya memberikan impian kosong belaka yang menyakitkan. Itulah yang dialami oleh SL Benfica & Al-Hilal musim ini tentang petualangan mereka diliga yang tak memiliki makna dari kemenangan yang dimiliki.

SL Benfica

Setelah mengakhiri musim 24-25 diperingkat 3 klasemen akhir Liga Portugal, Benfica mulai berbenah dengan menambah pemain yang memiliki profil cocok untuk skema tim. Posisi bek sayap mereka rombak dengan mendatangkan pemain asal AS Roma yakni Samuel Dahl dan Amar Dedic dari RB Salzburg. Diposisi gelandang bertahan Benfica mendatangkan pemain berbakat asal Kolombia yang malang melintang di tanah Brazil yaitu Richard Rios dengan mahar 27 juta euro dari Palmeiras dan disisi gelandang kreatif As Águias meminjam talenta asal Ukraina dari Shaktar Donetsk, Georgiy Sudakov. Posisi penyerang tak luput juga dari perbaikan, Benfica membeli penyerang sayap asal klub Sevilla yakni Dodi Lukebakio dan penyerang tengah dari Union Saint-Gilloise, Franjo Ivanovic.

Awal pekan di Liga Portugal mereka jalani dengan penuh percaya diri. Skuad yang saat itu dilatih Bruno Lage tim mampu meraih tiga kemenangan beruntun selama bulan Agustus. Namun, hasil ini berbanding terbalik dengan performa mereka di Liga Champion. Benfica dilaga pembuka secara mengejutkan kalah dari tim asal Azerbaijan, Qarabag dengan skor 3-2. Sempat memimpin terlebih dahulu akan tetapi Qarabag mampu mengembalikan keadaan. Sontak hal ini membuat Presiden Klub saat itu, Rui Costa langsung memecat Bruno Lage dari kursi kepelatihan. Sebagai gantinya legenda sepak bola Portugal ini menunjuk Jose Mourinho menjadi pelatih selanjutnya. 

Awal kedatangan The Special One sendiri berbuah manis. Tim yang baru ia latih mampu memenangkan pertandingan dalam lanjutan Liga Portugal dengan kemenangan 0-3 atas AVS. Rentetan kemenangan ini berjalan hanya sesaat saja pasalnya Mourinho dan tim ditahan imbang melawan Rio Ave. Namun, dilaga selanjutnya Benfica berhasil menang dengan mengalahkan Gil Vicente dengan skor tipis 2-1 dan catatan tanpa kekalahan mereka pun terus berlanjut. 

Sepanjang musim berlangsung, Benfica tak pernah mengalami satu kalipun kekalahan. Dari 34 laga yang dilakoni mereka memenangkan 23 pertandingan dan hanya 11 kali imbang berbanding dengan rival mereka Sporting CP & FC Porto yang telah mengalami kekalahan masing-masing 2 kali. Tampak impresif dan meyakinkan namun tak sesuai dengan kenyataan. Benfica memang konsisten tapi mereka konsisten dengan hasil imbang berbeda dengan rivalnya dipapan atas yang setelah mendapat kekalahan mereka selalu konsisten akan mendapat poin penuh. Hasil akhir klasemen liga menjadi pembuktian dimana FC Porto dengan dua kekalahannya mampu menjuarai liga sementara Sporting CP dengan jumlah kekalahan yang sama berakhir sebagai runner up. Benfica sendiri akhirnya harus duduk manis diperingkat 3 sama seperti musim lalu dan tak lolos ke Liga Champions di musim depan.

Al-Hilal

Menyebrang ke jazirah Arab, tim asal ibukota Arab Saudi yakni Al-Hilal juga mengalami nasib serupa dengan Benfica. Klub yang saat ini dilatih Simone Inzaghi harus mengakhiri musim diperingkat 2 setelah tak mampu mengungguli pesaing terdekatnya Al-Nassr dilaga akhir. Al-Hilal mengawali musim dengan mega transfer yang mereka lakukan. Al-Hilal merekrut dua pemain bintang asal Inggris dan Italia yaitu Theo Hernandez dari AC Milan & Darwin Nunez dari Liverpool. 

Tim asuhan Simone Inzaghi mampu mengawali liga dengan kemenangan meyakinkan atas Al-Riyadh dengan skor akhir 2-0. Meski begitu di dua laga selanjutnya mereka harus imbang melawan Al-Qadsiah dan tim kuat Al-Ahli. Kendati mendapat dua hasil imbang, Al-Hilal dilaga selanjutnya sampai dengan pertengahan musim tak mengalami kekalahan sama sekali mereka mampu menutui paruh satu Liga Saudi dengan 7 kemenangan dan 2 hasil imbang. Sebuah catatan manis untuk Simone Inzaghi yang baru saja terjun di dunia sepak bola negeri Arab.

Di bursa transfer musim dingin Al-Hilal tak mau tinggal diam mereka mengamankan pemain berbakat seperti Saimon Bouabre dari NEOM SC dan Kader Meite dari Stade Rennes. Disisi lain tim yang bermarkas di kota Riyadh ini membajak mega bintang Al-Ittihad yakni Karim Benzema. Dengan skuad yang sudah bertabur bintang dalam timnya membuat peluang Al-Hilal diatas kertas seharusnya mampu meraih kemenangan meyakinkan dari tim lawannya diragam kompetisi yang mereka lakoni. Namun, kenyataanya Al-Hilal justru lebih banyak menelan hasil remis daripada hasil manis. Selama menjalani paruh kedua Liga Arab Saudi mereka menjalani 24 pertandingan dan berhasil menang sebanyak 17 kali dan imbang sebanyak 7 kali. Catatan tersebut tentunya menjadi hasil yang flop bagi tim yang selalu mendominasi Liga Arab Saudi ini.

Meski begitu penampilan Al-Hilal mampu membuat Al-Nassr rival sekotanya sedikit ketakutan. Pasalnya, Al-Hilal mampu menempel ketat Al-Nassr dan mampu membuat mereka sedikit buyar konsentrasinya untuk mengamankan gelar juara liga. Di pertemuan paruh kedua dikandang Al-Nassr, tim asuhan Simone Inzaghi mampu menahan imbang sang tuan rumah dengan skor imbang 1-1. Di laga ini Al-Hilal mencetak gol dimenit akhir memanfaatkan blunder kiper Al-Nassr, Bento. 

Kendati mampu menahan pesta juara Al-Nassr dan terus membuka peluang mereka meraih gelar untuk kesekian kalinya, hal ini tak serta merta membuat Al-Hilal berleha-leha. Mereka harus menyapu laga akhir dengan kemenangan sembari berharap Al-Nassr kalah. Tim yang dikapteni Ronaldo tersebut memang kalah namun bukan diliga melainkan di final Asian Champions League Two dari Gamba Osaka. Kekalahan ini tentunya menjadi angin segar bagi Al-Hilal karena rivalnya tidak mendapatkan hasil yang mereka inginkan selama 2 pertandingan beruntun. Dengan hitungan diatas kertas dan juga hasil buruk dari lawan membuat seharusnya Al-Hilal mampu menyalip posisi Al-Nassr dengan kemenangan dan memang benar Al-Hilal mampu menyapu bersih laga akhir dengan kemenangan akan tetapi rivalnya yakni Al-Nassr juga mampu meraih kemenangan beruntun di laga sisa dan hal ini membuat impian Al-Hilal menyalip Al-Nassr sirna seketika.

Perjalanan dari dua tim beda benua dengan nasib yang sama ini seolah-olah menjadi paradoks. Sebuah klub jika ingin mendapatkan gelar juara maka aturan pertama yang harus dipatuhi adalah tidak boleh kalah dari siapapun. Hal ini dilakukan oleh kedua tim tersebut namun sayangnya dewi fortuna tak menuliskan β€œjuara” di takdir mereka musim ini hanya kemenangan tanpa arti yang dituliskan oleh sang dewi. 


πŸ“° Berita Terkait
Indonesia
Resensi Super League 25-26: Borneo FC, Ketika Progres dan Pr...
Indonesia
Semifinal Piala AFF U-19 2026: Skuad Garuda Nusantara Siap T...
Dunia
Kemegahan Tiga Negara: Piala Dunia FIFA 2026 Resmi Dimulai M...
Prancis
Cerita Singkat Endrick di Negeri Napoleon
Indonesia
Timnas Indonesia Menang Melawan Mozambik