Sumber Gambar: Borneo FC
Musim 25-26 menjadi titik balik bagi sepak bola Indonesia menyongsong era baru dengan sajian lama. Musim ini, kasta teratas merubah namanya menjadi Super League menggantikan nama Liga 1. Perubahan nama ini mengingatkan para pecinta sepak bola akan nama liga lawas yang selalui bergema di gendang telinga kita yakni Indonesia Super League atau biasa yang kita kenal ISL. Bagi pemangku jabatan dunia sepak bola Indonesia, nama ini selain memberikan sentuhan memori lama namun juga menjadi penanda transformasi sepak bola Indonesia menjadi lebih baik.
Penamaan ini diharapkan menjadi awal sebuah progres dan proses yang akhirnya dapat berjalan beriringan. Jika berbicara progres dan proses yang beriringan maka kita tak hanya menemukannya dari doa akan perubahan nama kasta tertinggi sepak bola Indonesia saja. Diujung timur Pulau Kalimantan, sebuah tim berasal dari kota dipinggir sungai Mahakam memberikan apa itu hasil nyata dari progres dan proses. Tim inilah yang awalnya hanya sering di 5 teratas peringkat liga akan tetapi musim ini menjadi penentang gelar serius yang ingin memutus dominasi tim asal Pulau Jawa. Tim itu bernama Borneo FC.
Sekilas Jejak Langkah Pesut Etam di Pagelaran Super League
dari 34 pertandingan yang mereka lakoni, Borneo FC mampu meraih 25 kemenangan, 4 hasil imbang dan 5 kekalahan dengan selisih gol dan kemasukan 74:31. Selama 11 pekan awal liga berlangsung Pesut Etam tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. Mereka baru mengalami kekalahan di pekan ke-14 kala menjamu Bali United di Samarinda dengan skor akhir pertandingan 0-1. Tak sampai disitu di pertandingan tunda pekan ke-4 tanggal 5 Desember 2025, Borneo FC harus menelan kekalahan telak di kandang Persib dengan skor 3-1. Pada empat pertandingan setelahnya, Borneo FC mengalami turbulensi dengan hanya mencatatkan 1 kemenangan, 1 imbang, 2 kekalahan sebelum putaran pertama berakhir.
Selama putaran kedua berlangsung, skuad asuhan Fabio Lafundes ini tercatat mencatatkan 13 kemenangan, 3 hasil imbang dan 1 kekalahan saja. Performa mereka ini tergolong sangat impresif. Selama putaran kedua berlangsung mereka tercatat menjebol gawang lawang sebanyak 43 gol berbanding dengan putaran pertama dimana mereka hanya mencetak 31 gol dan jumlah kebobolan mereka tercatat hanya 15 gol berbanding 1 gol lebih sedikit dari pada putaran pertama.
Hasil impresif ini sayangnya tak bisa membuat Borneo FC mendapatkan piala Super League untuk pertama kalinya semenjak klub berdiri. Meskipun raihan mereka sama dengan Persib yakni 79 poin dan menang selisih gol atas Maung Bandung akan tetapi hal tersebut terbuang sia-sia. Borneo FC kalah head to head atas Persib dari 2 pertemuan di Liga. Kecewa sangatlah menjadi hal yang wajar bagi skuad Borneo maupun para suporternya, tapi satu hal yang pasti perlawanan hingga akhir ini menunjukan bagaimana skuad ini lama-lama akan terbentuk menjadi penentang serius dalam perebutan gelar liga kedepannya.
Amunisi Yang Pas Dengan Juru Taktik Yang Tepat
Borneo FC melepas beberapa pemain yang menjadi tulang punggungnya musim 24-25. Nama seperti Berguinho, Matheus Pato, Ronaldo Rodrigues, Adittia Gigis, Stefano Lilipaly, Terens Puhiri, Lucas Salinas, Kenzo Nambu, dan Ardi Idrus pergi dari Kota Samarinda. Meski begitu Borneo FC segera melakukan transfer pemain untuk menambal posisi yang ditinggalkan. Juan Felipe Villa, Aldair Simanca, Maicon, Mohammed Al Husseini, Syahrul Trisna, Caxambu, Douglas Coutinho, Joel Vinicius datang guna memperkuat Pesut Etam dalam mengarungi musim 25-26.
Para pemain yang didatangkan tentunya perlu waktu untuk menyesuaikan dengan taktik arahan pelatih dan juga gaya main para tim Super League. Namun, seiring berjalannya waktu para pemain baru dan lawas akhirnya dapat bersatu padu dalam mengolah si kulit bundar sesuai taktik pelatih. Akan tetapi tak juga dipungkiri bahwa performa jeblok pemain di Bulan Desember membuat manajemen melakukan evaluasi.
Nama pemain asing seperti Maicon, Douglas Coutinho, Aldair Simanca, Haykal Alhafiz dipinjamkan ke klub lain. Sementara Joel Vinicius dan Fajar Fathurahhaman dilepas bukan karena performa namun mereka dikabarkan ditebus oleh klub barunya saat ini. Nama seperti Mohammad Anez, Marcos Astina, Koldo Obieta, Kaio Nunes, Cleylton didatangkan guna menambal pos pemain yang kurang. Pembenahan yang dilakukan diputaran kedua ini lebih banyak di area sektor gelandang dan penyerang. Kehadiran pemain baru di sektor tersebut terbukti jitu dan memberikan dampak langsung. Borneo yang sebelumnya kurang βbergairahβ dalam mencetak gol kini menjadi lebih gahar.
Performa gahar ini tentunya menjadi ciri khas yang diinginkan oleh oleh Fabio Lafundes sejak pertama kali menahkodai Borneo FC. Lafundes sendiri terkenal dengan tipe sepak bola menyerang dengan penekanan untuk press lawan sejak awal disisi tengah serta pemain harus rapi dalam bertahan. Di fase menyerang sendiri Lafundes menginstruksikan anak buahnya untuk segera melakukan counter attack dengan kombinasi umpan pendek. Meski begitu gaya main yang ia terapkan tak mengekang kreatifitas pemain dalam memberikan serangan ke pertahanan lawan.
Meski terkenal dengan sepakbolanya yang cenderung menyerang, ada kalanya Lafundes membuang ideologinya tersebut agar meraih kemenangan. Lafundes diatas kertas bisa saja menunrunkan formasi 4-3-3 akan tetapi ketika permainan berlangsung formasi ini bisa berubah dengan cepat menyesuaikan dengan karakteristik kelemahan lawan. Maka tak heran selain Persib, Borneo FC mampu menjadi tim terbaik kedua di liga secara performa akhir.
Para Pemain Kunci
Dalam menjalankan taktiknya tentunya Fabio Lafundes perlu beberapa pemain yang mampu menjadi pion penting dalam mengeksekusi idennya. Bukan hanya di lini serang saja akan tetapi lini belakang ia juga perlu menemukan pemain yang pas.
Nadeo menjadi tulang punggung panjaga gawang Borneo FC selama mengarungi musim 25-26. Kiper kelahiran Kediri tersebut mencatatkan 11 kali nir- bobol dan menjadi salah satu kiper terbaik di Super League. Dalam menjaga keamanan gawang selain Nadeo, pemain seperti Kei Hirose serta Christophe Nduwarugira menjadi sosok penting dalam menyapu bola dari cengkraman kaki lawan.
Selain menjaga pertahanan, Kei Hirose ditugaskan juga sebagai penghubung antara lini belakang dan lini belakang. Ia menjadi jantung permainan dalam malakukan transisi. Duetnya di lini tengah dengan Juan Felipe Villa menjadi kombo maut serangan dan bertahan Borneo FC. Pasalnya, Juan Felipe Villa yang baru saja datang mampu tampil sebanyak 31 laga dengan catatan 13 gol serta 9 assist. Sisi kreatif, eksekusi bola serta penempatan posisi menjadi hal yang membuat dirinya sebagai opsi kedua bila juru gedor seperti Mariano Peralta dibuat tak berkutik.
Mega bintang Borneo FC asal Argentina yakni Mariano Peralta semakin menunjukan tajinya sebagai pemain berbakat bukan hanya di level klub akan tetapi juga di level kompetisi. Pemain berusia 28 tahun tersebut mampu berkontribusi dengan torehan 20 gol dan 14 assist hanya dalam 34 pertandingan saja. Sebuah torehan impresif dan mendominasi dari legiun asing kebangsaan Argentina tersebut. Bukan hanya Peralta saja yang menjadi juru gedor utama Pesut Etam. Nama seperti Koldo Obieta juga memberikan kontribusi dengan 9 gol & 5 assist dalam 16 pertandingan. Perlu dicatat bahwa pemain kelahiran 1993 ini baru datang di bursa transfer paruh musim kedua. Performa impresif dari para pemain asing yang baru datang baik diawal atau pertengahan musim ini menjadi alasan mengapa klub asal Kota Samarinda tersebut mampu tampil sangat baik dari segi proses maupun progres tim.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.