Membaca Chelsea Yang Dinahkodai Xabi Alonso Musim Depan

Bagikan:
📅 08 Jun 2026 • 👁️ 16 views • 🏷️ Inggris • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: @extratimeindo

Menutupi musim 25-26 dengan duduk manis diposisi 10 klasemen akhir Premier League menjadikan alarm bagi Chelsea untuk segera berbenah. Menjelang ditutupnya musim tersebut manajemen Chelsea menunjuk Xabi Alonso sebagai nahkoda baru The Blues untuk musim mendatang. Xabi Alonso sendiri dikontrak sampai dengan 2030 dengan lama durasi 4 tahun. Tanah Inggris bagi Xabi tentunya sudah tak asing. Pasalnya, ketika ia menjadi pemain Xabi pernah bermain untuk Liverpool beberapa waktu sebelum akhirnya kembali ke Spanyol dan bermain untuk Real Madrid. 

Meskipun tak asing dengan sepak bola negeri Raja Charles tapi perubahan tentunya terjadi selama beberapa tahun belakangan. Hal inilah yang harus diantisipasi pelatih manapun yang akan menahkodai klub Inggris tak terkecuali Xabi sendiri. Melihat hal tersebut tentunya kita sebagai penggemar bertanya-tanya mungkinkah pelatih asal Spanyol ini dapat meraih kesuksesan di Inggris dan apa gambaran yang akan terjadi beserta tantangan yang harus dialami Xabi? Artikel ini akan menyajikan analisis mengenai faktor besar apa yang kemungkinan dapat terjadi di era Chelsea yang dinahkodai Xabi Alonso.

 

Gaya Bermain

Selama melatih Bayer Leverkusen dari musim 22-23 sampai dengan 24-25. Xabi Alonso terkenal dengan formasi pakem 3-4-2-1. Meskipun terlihat seperti formasi usang 90-an namun ditangan pria Spanyol tersebut formasi ini dibuatnya menjadi dasar sepak bola atraktif. Xabi meracik timnya kala itu dengan formasi ini melihat dari kebutuhan tim beserta kapabilitas dan kemampuan pemain dalam bermain sepak bola. Di area pertahanan, Xabi meminta anak buahnya untuk pressing tinggi sampai dengan tengah lapangan namun dilakukan secara perlahan disatu sisi ia juga meminta mereka untuk menutupi ruang gerak lawan agar struktur serangan lawan dapat dipecah dan pemain harus saling cover satu sama lain agar pertahanan tim menjadi kuat. 

Dalam menyerang, Xabi dapat membuat timnya bermain nyaman entah dengan melakukan taktik ball possesion ataupun serangan balik cepat yang menyesuaikan dengan cara main lawan. Satu hal yang pasti ketika timnya mendapat bola para pemainnya akan bergerak sangat cair dan hanya pemain di bagian sayap yang akan tetap diposisinya. Hal ini dilakukan untuk jaga-jaga jika penguasaan bola dengan taktik memenuhi satu sisi tidak berhasil dan menjadikan pemain sayap yang ada dipinggir sebagai target serangan balik cepat untuk membuyarkan pertahanan lawan. 

Dimusim 25-26 Xabi pindah ke klub ibukota Spanyol yakni Real Madrid. Bersama El Real ia banyak menggunakan ragam formasi demi menyesuaikan dengan kapabilitas dan kemampuan pemain dalam bermain dengan sistem yang dapat mengakomodir semua. Xabi tetap mempertahankan pola penyerangan yang ia bangun semenjak melatih Bayer Leverkusen. Namun, di Real Madrid ia melakukan beberapa penyesuaian. 

Arda Guler yang biasa ditempatkan disayap atau AM dimasa Ancelotti diubahnya menjadi pemain gelandang yang bermain lebih kedalam ditemani oleh Tchouameni atau Belingham. Kedatangan Trent Alexander-Arnold menjadi senjata pamungkas dengan umpan silangnya namun menjadi petaka dari sisi bertahan yang dimiliki sang pemain. Xabi menjawab kelebihan dan kekurangan pemain asal inggris tersebut dengan membuat Valverde atau Camavinga yang memiliki daya jelajah tinggi sebagai covering player jika Trent maju kedepan untuk memberikan umpan silang ke penyerang Real Madrid. 

Disisi penyerang, Xabi membuat lini depan Real Madrid yang diisi oleh Vinicius, Mbappe dan Rodrygo menjadi sangat cair untuk mengakomodir karakter mereka yang cenderung bermain sebagai penyerang sayap. Apabila permainan menyerang yang fluid tidak membuahkan hasil ia terkadang memasukan Gonzalo Garcia dan Endrick yang memiliki karakter sebagai penyerang nomer 9 murni.

Tercatat perjalanan singkatnya bersama Real Madrid, Xabi menggunakan beragam formasi dasar yang disesuaikan dengan lawan yang dihadapi. Ia terkadang memakai formasi dasar dengan 4 bek namun tak jarang mengunakan formasi berbasis 3 bek. Catatan penggunaan formasi dan bagaimana hasilnya dapat dilihat dari tabel yang ada dibawah.

FormasiMenang (W)Imbang (D)Kalah (L)Total Pertandingan
4-3-36208
4-2-3-1111214
3-4-2-11102
4-4-23036
4-3-1-21012
3-5-22002
Total244634

Melihat Chelsea yang dilatih Enzo Maresca, skuad The Blues cenderung sering memakai formasi 4-2-3-1. Hal ini dapat dilihat dari pertandingan yang dilakukan Xabi bersama Real Madrid ia lebih banyak bermain dengan formasi tersebut. Tentunya hal ini menjadi poin positif bagi dirinya dan para pemain Chelsea karena tidak perlu lagi ada penyesuaian taktik dan formasi dasar yang dapat menyita banyak waktu. Hal yang perlu diperbaiki Xabi di Chelsea adalah bagaimana ia merubah pakem positioning based pemain menjadi lebih cair. Taktik kaku yang diarahkan Enzo ini yang menjadi PR besar Chelsea musim lalu dimana terkadang pemain bingung terhadap pengambilan posisi rekan setimnya yang ditutup rapat oleh tim lawan.

 

Kapabilitas Pemain

Pemain Chelsea rata-rata merupakan pemain non-bintang tak seperti yang dimiliki Real Madrid ketika ia menukangi klub Spanyol tersebut musim lalu. Xabi sendiri sebenarnya sudah terbiasa melatih pemain yang notabene bukan bintang seperti di Bayer Leverkusen. Ia sendiri malah lebih akrab dengan pemain muda potensial beserta pemain yang jarang dilirik ataupun pemain yang masanya sudah habis dan disulapnya menjadi pemain terbaik dalam sistem yang ia jalankan.

Chelsea sendiri semenjak dilatih oleh Thomas Tuchel lebih bermain dengan model sepak bola tersistemasi yang membutuhkan pemain tipe menyerang beserta bertahan sama baiknya. Hal ini yang membuat nama seperti Graham Potter dan Enzo Maresca pernah melatih tim asal London Barat tersebut. Akan tetapi Potter yang secara sistem bisa masuk seperti Tuchel tak bisa memberikan performa bagus karena ia masuk dipertengahan musim dan dipecat sebelum musim berakhir akibat penyesuaian pemain yang lama. Disatu sisi Enzo Maresca yang baru ditunjuk malah langsung nyetel dengan tipe pemain dan mampu memberikan gelar juara ditahun pertama ia melatih. 

Pemain Chelsea sendiri setelah dipegang oleh Todd Boehly dan kolega cenderung merekrut pemain yang tak dikenal atau belum diketahui publik secara luas namun memiliki dampak besar untuk tim misalnya seperti Joao Pedro, Estevao, Andrey Santos ataupun Cole Palmer yang meskipun ia mampu meraih treble winner bersama Manchester City namun ia tak mendapat jam terbang tinggi di kota Manchester. Klub London biru ini tak jarang mereka juga membeli pemain yang overprice seperti Moises Caicedo, Alejandro Garnacho ataupun Enzo Fernandez. Disatu sisi Chelsea juga sering membeli pemain flop seperti Liam Delap, Nicholas Jackson, Joao Felix, Benoit Badiashile dan yang paling fenomenal seperti Mykailo Mudryk.

Kapasitas pemain ini yang perlu diperhatikan oleh Xabi karena jika ia ingin memaksimalkan hasil yang manis maka ia harus menyeleksi dengan baik mana pemain yang sejalan dengan tipe permainan yang henda ia mainkan. Disatu sisi ruang ganti Chelsea memang lebih terkontrol daripada Real Madrid akan tetapi tak jarang juga pemain Chelsea kedapatan melakukan ulah yang membuat geger. Kapabilitas man-management Xabi disini akan diuji kembali. Seperti yang kita tahu kala melatih Real Madrid ia tak bisa menangani ego pemain disana dan akhirnya berbuah perjalanannya di kota Madrid harus berakhir dengan singkat. Namun, tantangannya di Chelsea bukan hanya di ego atau kelakuan pemain saja namun juga dari pemilik Chelsea saat ini, Todd Boehly.

 

Gaya Koboy “Khas America” dari Todd Boehly

Todd Boehly datang ke Chelsea setelah ia membeli klub tersebut dari Roman Abramovic pada 22 mei 2022. Hal ini membuat Chelsea era The Roman Empire berakhir. Pembelian Chelsea oleh Todd Boehly tak hanya dilakukan olehnya saja. Pria asal negeri Paman Sam ini mendirikan konsorsium besar dengan menggandeng Mark Walter, Hansjörg Wyss, dan perusahaan investasi asal Amerika Serikat, Clearlake Capital sebagai rekannya dan membentuk grup BlueCo.

Setelah ia resmi menjadi pemilik Chelsea, sang mister asal Amerika Serikat ini segera mendobrak jagad sepak bola dengan kebijakannya yang kontroversi dimana ia melakukan belanja masif sampai dengan 1,3 miliar euro, kontrak jangka panjang berdurasi 7 sampai 8 tahun yang akhirnya membuat FIFA harus membuat aturan baru dimana kontrak pemain hanya boleh berlangsung selama 5 tahun setelah kebijakan ini ketok palu, memecat pelatih yang membuat tim ini berhasil naik lagi ke papan atas dan mampu menyumbangkan trofi si kuping besar ke Stanford Bridge dan ia menggunakan model bisnis Amerika dimana cenderung fokus ke keuntungan investasi dengan menjual pemain muda berbakat yang mereka punya.

Apa yang dilakukan oleh Todd Boehly dalam merombak sistem manajemen kepelatihan sebenarnya tidak ada bedanya dengan Roman Abramovic, akan tetapi perubahan yang dilakukan Roman sangat terlihat dampaknya dimana setiap pelatih yang melatih Chelsea pasti mereka akan meraih gelar juara ataupun jika menunjuk manajer interim setidaknya klub ini bisa bermain lagi di kompetisi Eropa. Hal ini juga diadopsi oleh Todd Boehly dimana ia tak segan merombak sistem manajemen kepelatihan. Namun, jika perubahan pelatih era Roman berbuah keberhasilan maka perubahan pelatih era Boehly berbuah kesengsaraan. 

Ia terkadang melakukan tindakan yang kurang bijak bila pelatih yang ditunjuknya tak memberikan hasil yang ia mau. Boehly sendiri ketimbang melihat prestasi ia justru lebih memilih untuk membuat harga pemain mudanya naik dengan cara apapun agar ia dan klub bisa mendapat keuntungan. Pemain yang ia datangkan sendiri hampir semuanya bukan keinginan dari pelatih. Konfliknya dengan Enzo Maresca lalu sebagai bukti nyata dari “gaya koboy” Boehly. Ia memecat Maresca karena sang pelatih enggan memainkan pemain yang didatangkan ke Chelsea agar nilainya terus naik dan dapat dijual dengan harga tinggi.

Apa yang akan dialami Xabi ini tentunya harus menjadi perhatiannya. Musim lalu ia bukan hanya memiliki konflik dengan pemain saja akan tetapi juga dengan Florentino Perez sang Presiden Real Madrid mengenai aduan pemain yang menganggap Xabi terlalu keras terhadap mereka dan tak sesuai dengan keinginan para pemain tersebut. Tentunya pengalaman tak mengenakkan tersebut bisa saja menjadi modal dasar Xabi agar bisa mengatasi “gaya koboy” dari Boehly. Namun, bila berkaca dari rekam jejak Xabi bisa saja ia tak akan langgeng di Standford Bridge dalam waktu lama atau setidaknya sampai kontrak 4 tahunnya habis. Jika harus menerka masa depan pria Spanyol di negeri Inggris sampai kapan maka hanya waktu, kemampuan manajemen Xabi dan kegilaan Todd Boehly yang bisa menjawabnya.


📰 Berita Terkait
Indonesia
Resensi Super League 25-26: Borneo FC, Ketika Progres dan Pr...
Indonesia
Semifinal Piala AFF U-19 2026: Skuad Garuda Nusantara Siap T...
Dunia
Kemegahan Tiga Negara: Piala Dunia FIFA 2026 Resmi Dimulai M...
Prancis
Cerita Singkat Endrick di Negeri Napoleon
Indonesia
Timnas Indonesia Menang Melawan Mozambik