Resensi Super League 25-26: Malut United, Penantang Gelar Baru Dari Timur Yang Kelimpungan

Bagikan:
📅 20 Jun 2026 • 👁️ 13 views • 🏷️ Indonesia • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Malut United

Selama mengarungi tahun pertama di pagelaran Super League, tim yang baru saja promosi yakni Malut United mampu duduk manis di posisi 3 klasemen akhir musim 24-25 tepat dibawah Persib Bandung & Dewa United. Pencapaian ini tentu sangatlah memukau pasalnya sangat jarang ada tim yang mampu finish di papan atas klasemen dengan status tim promosi. 

Naiknya Malut United memberikan angin segar untuk sepak bola Indonesia Timur khususnya tanah Maluku Utara dimana sampai dengan 2024 kemarin tidak pernah ada tim dari Maluku Utara yang berseliweran di kasta tertinggi Liga Indonesia. Dahaga akan menonton tim daerahnya untuk tampil di panggung teratas akhirnya terjawab dengan terbentuknya Malut United ini dan gebrakan mereka di awal musim yang berstatus sebagai tim promosi.

Menanjaknya performa Malut United dengan pesat ini memberikan ekspektasi tinggi bukan hanya dari suporter mereka saja namun juga pecinta sepak bola Indonesia. Bagi suporter, prestasi yang diberikan oleh Malut United membuat mereka akhirnya bisa berbangga diri akan tim asalnya yang mampu menjadi anak baru pengganggu dominasi klub tradisional. Sementara bagi penikmat sepak bola Indonesia, kembalinya tim kuat dari Indonesia Timur ini memberikan angin segar bagi mereka yang sudah lama merindukan permainan cair dan mempesona khas Indonesia Timur. 

Menjawab hal ini Manajemen Malut United langsung melakukan gebrakan dimusim kedua mereka di Super League. Sempat mengalami sedikit turbulensi ditubuh manajemen tim, Malut United akhirnya dapat membenahi hal tersebut dan langsung memberikan kejutan untuk bisa bersaing bukan sebagai anak baru di Liga tapi sebagai pemburu gelar juara. Kedatangan pemain top yang malang melintang di pentas teratas liga sepak bola Indonesia serta kedatangan juru taktik anyar menjadi kunci utamanya.

Datangnya Para Bintang ke Tanah Ternate

Memasuki musim 25-26, Malut United bergerak cepat untuk membongkar pasang komposisi tim serta staf kepelatihan guna mendapatkan hasil maksimal. David da Silva, Ciro Alves, Dimas Drajad, Gustavo Franca serta Tyronne del Pino yang baru saja merayakan gelar juara liga bersama Persib Bandung didatangkan untuk menambal posisi bek tengah serta sektor kreatif serta penyerangan tim. Tak hanya gerbong asal Bandung yang dibajak oleh Malut United, mereka juga bergerak cepat dengan mengamankan jasa Alan Jose, Vico Duarte dan Abduh Lestaluhu dari PSS Sleman. Selain itu pemain seperti Septian David, Riyan Ardiansyah, Tri Setiawan, Ridho Syuhada didatangkan dari PSIS Semarang. Di pos penjaga gawang, Malut United mendatangkan Angga Saputro dari Borneo FC untuk menjaga kedalaman skuad.

Daftar legiun asing yang datang ke Stadion Kie Raha tercatat ada Igor Inocencio mantan pemain Vila Nova FC serta Nilson Junior yang merupakan ex-pemain Operario-PR. Datangnya para pemain yang sudah malang melintang di kancah sepak bola Indonesia tentunya membuat penyesuaian pemain dengan permainan lawan tidak perlu membutuhkan waktu lama disatu sisi kehadiran dari para pemain yang sudah membela Malut United musim lalu seperti Sayuri bersaudara, Safruddin Tahar, Manahati Lestusen, dan Frets Butuan membuat skuad ini hanya tinggal memerlukan pelatih yang tepat saja agar permainan tim menjadi symphony yang merdu. 

Datangnya Hendri Susilo melengkapi kebutuhan tim Malut United yang membutuhkan sosok pelatih untuk menangani skuad bintangnya. Penunjukan Hendri Susilo ini diluar prediksi para penikmat sepak bola Indonesia. Pasalnya, Hendri sendiri tidak pernah menangani tim besar selama ia melatih klub sepak bola di Indonesia. Meski begitu manajemen Malut United tetap merasa yakin bahwa keputusan yang mereka buat bukanlah sebuah kesalahan. Justru menjadi pembeda ditengah gempuran pelatih asing yang berseliweran di klub lokal 

Garang di Lapangan Akan tetapi Belum Lepas dari Masalah

Selama mengarungi musim 25-26, performa Malut bisa dikatakan sangat baik secara keseluruhan akan tetapi mereka sering tidak tampil kurang memuaskan dalam mengambil langkah pertama ataupun menutup langkah krusial. Dari 34 pertandingan yang dijalani, skuad asuhan Hendri Susilo mampu membukukan 15 kemenangan, 8 hasil remis dan 11 kekalahan. Start yang dilakukan Ciro Alves dkk tak berjalan baik pada paruh pertama. 5 pekan pertama mereka jalani dengan 1 kemenangan saja dilaga pembuka melawan Dewa United dan selebihnya mereka imbang melawan Bali United & Persija serta mendapat kekalahan kala berjumpa dengan PSIM & Persik secara beruntun. 

Akan tetapi setelah 5 pekan awal yang sangat kurang mengenakkan mereka mampu mendapatkan hasil bagus setelahnya. Selama menjalani 17 laga pertama, Malut United membukukan 10 kemenangan, 4 hasil imbang dan 3 kekalahan. Dari laga yang telah dilakoni, hasil ini terbilang cukup impresif untuk tim yang menjadi penentang gelar liga apalagi berstatus sebagai kekuatan baru. Meski begitu performa positif mereka di paruh pertama liga tak dapat mereka mereka lakukan di paruh kedua Super League.

Memasuki paruh kedua liga, Malut United mengalami performa yang naik turun. Jumlah kemenangan yang mereka dapatkan sangatlah buruk sekali berbanding sebelum jeda musim berlangsung. Di paruh musim ini mereka hanya mampu mengumpulkan 5 kemenangan, 4 hasil imbang dan 8 kekalahan. Selama menjalani paruh musim kedua, Malut United hanya sekali menjebol gawang lawan hanya dengan sebiji gol saja kala mereka bermain imbang melawan Persita Tangerang, selebihnya mereka mampu mencetak lebih dari sebiji gol. 

Malut United mencatatkan kemenangan besar kala melawan Persik & Persijap dengan skor akhir 4-0, lalu kala menjamu PSBS Biak mereka mampu menang dengan skor telak 0-7 dan saat bertemu Persis Solo mereka mampu menjebol gawang mereka sebanyak 5 kali. Hasil ini tentunya sangat impresif akan tetapi jumlah kebobolan mereka sama impresifnya dengan jumlah gol yang mereka cetak. Dari 17 pertandingan paruh kedua, mereka kebobolan sebanyak 34 gol berbanding terbalik dengan jumlah kebobolan mereka dapatkan pada paruh pertama yakni 19 gol saja. Faktor ini tentunya juga terpengaruh oleh pilihan taktik dari pelatih yang membuat performa Malut United menjadi sangat berkurang drastis.

Permainan Ekspresif Tapi Tak Membuahkan Hasil

Selama menahkodai tim yang berjuluk Laskar Kie Raha, Hendri Susilo cenderung memakai pendekatan untuk bermain sesuai dengan kapabilitas pemain sehingga mereka mampu tampil ekspresif kala berlaga menghadapi lawan. Pendekatan ini dipilih karena materi pemain yang dimiliki Malut United bisa terbilang diatas rata-rata. 

Di pos penjaga gawang, Malut United memiliki 2 opsi antara memainkan Alan Jose dengan pertimbangan ukuran tubuh yang menjulang tinggi atau menempatkan kiper kawakan seperti Angga Saputro dibawah mistar gawang. Di pos pemain bertahan Gustavo Franca Berduet dengan kompatriot senegaranya yakni Nilson Junior ataupun terkadang Safruddin Tahar menjadi partner Gustavo dilini belakang. Sementara disisi bek sayap, Malut United memiliki banyak opsi antara memainkan Yance, Igor Inocencio, Fredyan Wahyu atau Abduh Lestaluhu.

Pos gelandang sendiri, Malut United memiliki Wbeymar Angulo, Manahati Lestusen, dan Alwi Slamat disatu sisi kedatangan Lucas Cardoso serta Rizky Pellu di pertengahan musim menambah kedalaman lini tengah Malut United. Sementara itu di pos kreator serangan, sosok seperti Tyronne del Pino serta Septian David siap menjadi penyuplai bola bagi penyerang Malut United. Pos penyerang yang dimiliki Malut United terbilang cukup baik sekali. Frets Butuan, Ciro Alves, Dimas Drajad, David da Silva serta mega bintang seperti Yakob Sayuri memberikan warna sendiri dengan kapabilitas masing-masing.

Diatas kertas kemampuan pemain utama yang dimiliki Hendri Susilo sangatlah baik akan tetapi permainan dengan sistem menjadi salah satu cara mulus guna memaksimalkan potensi pemain yang dimilikinya. Selama menjalani 34 laga bersama Malut United, pilihan formasi yang dipilih selalu 4-3-3. Meskipun penerapannya bisa cair namun konsep serangan yang diusung tergolong sangat monoton. Malut United sering bermain lewat sayap dan apabila mengalami kebuntuan mereka akan bermain melalui tengah lewat kreatifitas individu seperti Tyronne, Ciro ataupun David. Sementara di pos bertahan Malut United lebih sering mengalami kelinglungan untuk menjaga pemain lawan. 

Secara skill apa yang disajikan pemain Malut United memang memanjakan mata entah itu lewat gaya pemain yang menyerang ataupun gaya pertahanan pemain yang sangat memukau. Namun, sepak bola Indonesia sudah berubah dimana tim yang bermain saat ini lebih menjalankan strategi taktis dari pada skema individualis. Tak ayal dengan performa buruk ini Malut United akhirnya menyudahi kerjasamanya dengan Hendri Susilo dan saat ini Malut United tengah mempersiapkan tim guna mengarungi musim depan agar mampu menjadi penantang serius bukan hanya diatas kertas saja tapi juga di permainan yang mereka sajikan. 


📰 Berita Terkait
Indonesia
Pembagian Grup Tim Pegadaian Championship Musim 26-27
Indonesia
Resensi Super League 25-26: Malut United, Penantang Gelar Ba...
Dunia
Messi Samai Klose, Mbappé Mengancam di Daftar Top Skor Piala...
Dunia
Peliknya Neymar Bersama Timnas Brazil
Dunia
Deretan Fakta Menarik Pasca Trigol Messi di Piala Dunia 2026