Resensi Super League 25-26: Hanya Karena Mendominasi Statistik Bukan Berarti Pasti Juara, Persija!

Bagikan:
📅 14 Jun 2026 • 👁️ 17 views • 🏷️ Indonesia • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Persija Jakarta

Tim yang kotanya kembali dengan status ibukota negara yakni Persija Jakarta harus kembali mengalami paceklik gelar di kasta tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Meski begitu, Persija mampu mengakhiri musim 25-26 dengan duduk diposisi 3 klasemen akhir. Torehan ini tentunya sangat bagus dibanding prestasi mereka dua musim belakang yang harus puas berada di posisi 8 pada musim 23-24 dan dimusim 24-25 mereka naik satu posisi saja. Performa jeblok dari Persija ini menjadi tanda peringatan dari manajemen untuk segera merombak pemain serta pelatih. Tercatat setelah ditinggal Thomas Doll, manajemen Persija menunjuk Carlos Pena sebagai pengganti pelatih kebangsaan Jerman tersebut. Namun, cerita Pena bersama Persija hanya berakhir satu musim saja akibat performanya yang dianggap tak lebih baik dari musim terakhir Thomas Doll di Persija.

Maka dari itu diawal musim 25-26, manajemen Persija menunjuk Mauricio Souza sebagai pengganti Carlos Pena. Di bawah asuhan pelatih asal Brazil performa Persija kembali menanjak meskipun sempat angin-anginan dibeberapa pekan pertama kompetisi berlangsung. Mauricio Souza sendiri bukan nama asing di sepak bola Indonesia. Ia pernah melatih Madura United dimusim 23-24. Karena hal inilah ia bisa langsung nyetel dengan tempo permainan serta karakteristik sepak bola Indonesia. Mauricio memberikan warna baru bagi publik Jakarta dengan gayanya yang bisa membuat tim lebih baik dari sebelumnya. Namun, apakah hanya faktor pelatih saja yang membuat Persija membaik? Artikel ini akan memberikan resensi mengenai performa Persija musim lalu dari segala aspek.

Gaya Bermain Mauricio 

Manajemen Persija selain memilih Mauricio Souza karena sudah tak asing dengan sepakbola lokal, Ia ditunjuk menjadi pelatih juga karena taktikalnya yang cocok dengan gaya main tim yang ada di Indonesia. Mauricio diatas kertas memakai formasi 4-3-3 flat tapi disatu sisi ia bisa saja merubah formasi ini menyesuaikan dengan karakteristik lawan dan apa ramuan jitunya agar memenangkan 3 poin untuk Macan Kemayoran. Hal ini bisa dilihat dari total formasi yang ia pakai pada musim 25-26 berlangsung. Dari 34 pertandingan sebanyak 22 kali Persija bermain dengan gaya 4-3-3 murni, sementara formasi 4-4-2 pernah ia coba sebanyak 6 kali, formasi 3 bek dengan pakem 3-4-3 ia aplikasikan sebanyak 5 kali dan hanya sekali saja ia memakai formasi 3-4-1-2. 

Mauricio memakai pakem 4-3-3 bila ia bertemu dengan tim yang murni atau cenderung bermain menyerang demi memberikan pressing tinggi ditengah agar pertarungan terjadi dilini tengah dan sebisa mungkin jauh dari posisi gawang timnya sementara pakem 3 bek ia terapkan bila bertemu dengan tim yang bermain bunglon seperti dirinya ataupun melawan tim yang mengandalkan skema serangan balik cepat dengan pemain berkecepatan tinggi dengan penyelesaian akhir klinis contohnya saat bertemu Borneo FC ataupun Bhayangkara Presisi. Skema 4-4-2 ia jadikan sebagai salah satu taktik cadangan bila bertemu dengan tim yang memiliki keseimbangan antara menyerang dan bertahan sama baiknya. 

Secara formasi memang apa yang diterapkan oleh Mauricio bisa berubah-ubah mengikuti gaya mainnya. Persija bisa bermain dengan umpan pendek ke sesama pemain untuk menjaga possesion ball. Disatu sisi Mauricio juga bisa saja memerintahkan anak buahnya untuk bermain serangan balik cepat memanfaatkan ruang kosong entah sayap ataupun tengah dengan pemain yang menempati pos tersebut dapat dirotasi dan mampu menjalankan peran dengan baik. Dari semua hal ini hanya ada satu hal yang tak bisa dirubah oleh Mauricio yakni pressing tinggi terhadap pertahanan lawan. Persija sering memberikan tekanan tinggi kepada lawan agar bola bisa mereka rebut dan mendikte tempo permainan. Maka dari itu tak heran Persija mendatangkan beberapa pemain penting ke skuadnya demi menjaga pressing tinggi terhadap lawan baik dari sektor pertahanan sampai dengan penyerangan.

Komposisi Pemain Dengan Kedalaman Yang Mumpuni

Persija di bursa transfer awal musim dan jeda kompetisi mendatang banyak pemain. Maxwell, Bruno Tubarao, Jordi Amat, Jean Mota, Fajar Fathurrahman, Paulo Ricardo, Cyrus Margono, Eksel Runtukahu, Van Basty Sousa, Fabio Silva, Shayne Pattynama, Allano, Mauro Zjlstra, Fabio Silva, Alaeddine Ajarie dan Thales Lira didatangkan guna memperkuat tim. Meski begitu ada beberapa nama yang harus keluar dari Persija di bursa transfer musim ini guna perbaikan tim seperti Gustavo Franca, Rio Fahmi, Ryo Matsumura, Hansamu Yama, Ferrari dan Alan Cardoso.

Dikomposisi kiper Persija memiliki palang pintu veteran seperti Andritany. Sementara itu legiun asing seperti Carlos Eduardo didatangkan guna memperdalam skuad. Dipertengahan musim Persija mendatangkan pemain yang pernah bermain untuk Panathinaikos B yakni Cyrus Margono. Di sektor belakang, Persija menduetkan Rizky Ridho dengan Jordi Amat dan pelapis bagi kedua pemain ini adalah Paulo Ricardo serta Thales Lira dan bila diperlukan Hanif Sjahbandi yang bermain sebagai gelandang bertahan dapat bermain sebagai deeplying defender dalam skema 2 bek ataupun 3 bek. Disisi bek sayap nama seperti Shayne Pattynama didatangkan dari Buriram dan nama pemain lokal berbakat seperti Fajar dan juga Doni Tri menjadi pengisi pos ini juga.

Di lini tengah gelandang asal negeri Samba mendominasi pos ini. Fabio Silva, Van Basty Sousa serta Jean Mota menjadi pemain yang mengisi kuartet gelandang. Disatu sisi pemain muda berbakat seperti Aditya Warman serta Rayhan Hannan menjadi pelapis lini tengah. Sisi kreatifitas sendiri Persija memiliki beragam opsi. Maxwell, Allano dan Bruno Tubarao memberikan sentuhan magis khas Brazil dilini serang. Trio ini juga ditopang oleh pemain lokal sekelas Witan Sulaeman. Disisi pos sayap murni lokal, Persija memiliki pemain muda berbakat seperti Zahaby Gholy serta Arlyansyah Abdulraham sementara di pos penyerang ada Ajarie yang dapat bermain roaming, Gustavo Almaeda yang dapat menjadi mesin gol serta carrying bola sendiri lalu ada Eksel yang menjadi penyerang bayangan untuk memberikan kejutan terhadap lawan dan ada Zjilstra yang menjadi striker modern dengan pendekatan taktik khas Eropa bila diperlukan. 

Skuad Persija diatas kertas sangat mumpuni kedalamannya. Kombinasi antara pemain bakat lokal, Naturalisasi serta Legiun asal negeri Samba dan Maghreb menjadi kunci atas pola permainan Mauricio yang ia inginkan. Permainan yang ia terapkan terekam baik dari ingatan penonton, komentator maupun catatan statistik Liga. 

Statistik Macan Kemayoran Selama Bermain di Liga

Akurasi umpan Persija menembus angka sebanyak 29.07% yang menempatkan mereka diposisi teratas dari seluruh peserta Super League dengan total umpan yang dibuat sebanyak 15.758 kali. Sementara untuk keberhasilan dari umpan yang diberikan sebanyak 13.553 kali dengan kegagalan umpan 2.185 yang menempatkan Persija diposisi terbawah dalam kegagalan umpan ke sesama pemainnya. Tak heran dengan statistik ini membuat Persija menjadi tim yang sering melakukan possesion ball dengan torehan 21.08%.

Persija menembakan gola ke gawang lawan sebanyak 536 kali menempatkan mereka di posisi atas sebagai tim paling agresif. Sebanyak 118 kali tembakan mereka ke gawang berhasil di blok dan sebanyak 213 kali tembakan mereka menuju langsung ke gawang lawan Akurasi tembakan Persija tergolong sangat baik dengan raihan 18.09% dan untuk tim yang sering terkena offside, Persija berada di peringkat 11 dengan total hanya 41 kali saja. Melalui skema bola mati dengan tendangan sudut, Persija mampu memberikan 212 kali ancaman dari sudut lapangan lawan. Dengan statistik yang diperoleh ini wajar jika torehan gol Persija bisa mencapai 65 gol.

Disisi pertahanan Persija mampu meraih total sebanyak 435 kali tekel sukses yang menempatkan mereka di posisi terendah kedua dan disatu sisi raihan kartu kuning Persija sebanyak 88 kartu dan untuk kartu merah sebanyak 8 kali. Angka ini menunjukan sisi pertahanan Persija secara statistik sangat rapuh dan mudah untuk dieksploitasi. Meski begitu torehan kebobolan Persija hanya 29 kali saja, terendah kedua setelah Persib yang kebobolan sebanyak 22 gol.

Secara statistik, Persija menunjukan angka keberhasilan yang sesuai dengan kenyataan melalui skema penyerangan yang mereka lakukan. Tetapi disatu sisi anomali terjadi disektor pertahanan dimana dengan rekor yang buruk mereka tetap mampu menjadi salah satu tim dengan kebobolan terendah di Super League. Meski begitu tak dapat dipungkiri catatan statistik bertahan tersebut menjadi salah satu alasan kenapa Persija tak dapat meraih gelar juara sekalipun dengan komposisi pemain yang sangat baik. 

Alasan Sisi Bertahan Persija Buruk

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pertahanan Persija buruk. Selain kecermatan taktik dari lawan namun faktor diluar taktik lawan juga berpengaruh disini. Permainan yang diterapkan Mauricio membuat lini pertahanan Persija menjadi rapuh bila tim dengan diserang balik oleh lawan. Garis pertahanan tinggi menjadi alasan kenapa tekel sukses Persija bisa terbilang cukup rendah. Pressing tinggi membuat pemain Persija harus mengurung pertahanan lawan tanpa ampun dan tak memberikan ruang gerak sedikitpun. Diatas kertas taktik ini memang akan berhasil akan tetapi penuh resiko bila pemain lawan memiliki pemain yang mengandalkan kecepatan ataupun kecermatan umpan.

Tekel yang tak bersih ini sering membuahkan kartu kuning tak perlu untuk Macan Kemayoran. Pemain pun terpaksa melakukan tekel karena sering telat menutup ruang ataupun kalah lari jarak pendek dari pemain lawan. Meski begitu ada kalanya juga Persija dapat bermain dengan rapat dipertahanan demi meminimalisir tekel yang tak perlu. Akan tetapi kerapatan lini belakang Persija ini terkadang bisa bagus namun kadang sering jelek. Sialnya, sisi jelek ini yang langsung bisa dicermati lawan dan akhirnya dapat mengeksploitasi ruang. Contoh kejadian ini terjadi pada gol yang dicetak oleh Persib di laga panas kemarin saat Persija menjamu mereka di Samarinda.

Selain faktor garis lini belakang yang tinggi, Persija juga kadang sering kehilangan bola di area sendiri yang tak perlu kejadian tersebut terjadi. Dalam melakukan taktik Possesion ball, selain menjaga bola dengan teknik para pemain juga harus memiliki awareness yang tinggi lewat scanning permainan agar bola yang mereka dapat tak jatuh ke kaki lawan serta mereka dapat memberikan umpan ke rekannya. Scanning yang dimiliki Persija sudah bagus namun awareness ini yang masih menjadi pekerjaan rumah. Contoh yang dapat menggambarkan kelemahan ini dengan baik lagi-lagi kala mereka menjamu Persib di Samarinda. 

Faktor eksternal tim seperti lapangan juga menjadi hal yang membuat Persija terkadang sering membuang poin penuh dikandangnya. Jakarta International Stadium yang menjadi kandang Persija sering memberikan kemalangan ketimbang kemenangan bagi tim ibukota. Lapangan yang buruk dan tak rata sangat berbanding kontras dengan kemegahan yang dimiliki stadion tersebut. Pemain terkadang sering jatuh atau salah umpan ditengah kondisi lapangan yang buruk ini. Ambilah contoh disaat Persija Menjamu Bali United. Rizky Ridho dan kolega bisa saja mengamankan 3 poin penting dalam partai panas ini. Akan tetapi karena lapangan yang kurang memadai untuk bermain possesion ball mereka harus kehilangan poin dikandang sendiri. 

Epilog

Melihat hal ini sebenarnya Persija bisa saja untuk berkembang dengan arahan pelatih yang membawa mereka untuk pertama kalinya dalam 3 tahun kebelakang, Persija dapat masuk ke jajaran Top 3 teratas Super League. Namun tak disangkal juga bahwa terkadang taktik juru latih asal Brazil tersebut memberikan petaka bagi permainan dan posisi Persija untuk mendulang prestasi.

Kelemahan Persija di faktor internal terletak pada taktik bertahan yang kurang rapi serta terlalu dipaksakan dengan kapabilitas kecepatan pemain yang kurang serta awareness permainan dari pemain yang terkadang masih perlu diperbaiki lagi. Tak ayal hal ini membuat manajemen Persija pada akhirnya harus menemukan pelatih yang cocok dari kelebihan dan kelemahan tim saat ini serta lapangan yang kurang memadai dapat diakali.

Mauricio Souza diakhir musim akhirnya resmi berpisah dengan klub kebanggaan masyarakat Jakarta. Tak hanya dirinya saja, hampir semua pemain gerbong Brazil dan juga Ajaraie meninggalkan Kota Jakarta. Praktis hanya Gustavo Almeida, Fabio Silva, Van Basty Sousa dan Paulo Ricardo yang bertahan. Persija untuk musim depan akan memasuki era baru. Selain pergantian pelatih beserta gerbong stafnya, pemain yang akan merapat ke Jakarta akan menjadi sorotan untuk tim yang 2 tahun kedepan akan genap berusia 100 tahun. 


📰 Berita Terkait
Indonesia
Pembagian Grup Tim Pegadaian Championship Musim 26-27
Indonesia
Resensi Super League 25-26: Malut United, Penantang Gelar Ba...
Dunia
Messi Samai Klose, Mbappé Mengancam di Daftar Top Skor Piala...
Dunia
Peliknya Neymar Bersama Timnas Brazil
Dunia
Deretan Fakta Menarik Pasca Trigol Messi di Piala Dunia 2026